full screen background image

Kehidupan Nelayan Tradisional Kabupaten Batubara Memprihatinkan

Ilustrasi Nelayan Tradisional

Batubara, 2/9 – Kehidupan nelayan tradisional di Kabupaten Batubara, Sumatera Utara, tidak hanya menghadapi tantangan semakin banyaknya beroperasi kapal ikan yang berukuran besar menggunakan alat tangkap canggih, tetapi juga kehidupan mereka sangat memprihatinkan akibat berkurangnya hasil tangkapan.

“Pendapatan nelayan kecil di wilayah Pantai Timur Sumatera itu, semakin hari terus merosot dan hasil tangkapan mereka juga menurun drastis, hal ini perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah,” kata Ketua Dewan Penasihat DPW Persatuan Nelayan Tradisional (PNTI) Sumut, Gus Irawan Pasaribu di Tanjung Tiram, Minggu.

Hal tersebut dikatakannya pada pelantikan Pengurus DPD PNTI Kabupaten Batubara periode 2011-2015 di halaman Istana Lima Laras, Kecamatan Tanjung Tiram.Pengurus yang dilantik itu, yakni Ketua Muhammad Bakri, Sekretarsi Muhammad Nizar dan Bendahara Putra Medan.

Gus Irawan mengatakan, hasil tangkapan ikan yang semakin berkurang atau “menurun”, kalau terus dibiarkan akan berdampak pada keluarga dan anak-anak nelayan, dan juga bisa membuat lumpuhnya roda perekonomian masyarakat di daerah tersebut.

Oleh karena itu, katanya, nelayan tradisional harus terus bekerja keras dan berjuang untuk mendapatkan hasil tangkapan yang lebih banyak, sehingga anak-anak dapat bersekolah dengan lancar. Sebab, jelas mantan Dirut Bank Sumut itu, dengan bersekolah, diharapkan anak-anak nelayan tersebut dapat merubah nasib mereka lebih baik lagi.

“Kita juga berharap anak-anak nelayan di Kabupaten Batubara ini, ada yang menjadi seorang pemimpin, sehingga bisa membangun kehidupan dan perekonomian masyarakat,” kata Gus Irawan yang juga bakal calon (Balon) Gubernur Sumut periode 2013-2018.

Selanjutnya dia mengatakan, pemerintah perlu menambah dana APBD Provinsi Sumut untuk kesejahteraan petani dan nelayan, karena selama ini hanya sekitar 10 persen. Padahal, sekitar 70 persen dari jumlah 12 juta penduduk di Sumut adalah sebagai petani dan nelayan.

“Nelayan tradisional di Kabupaten Batubara itu juga harus mewaspadai kehadiran kapal asing yang mengambil ikan di perairan tersebut, karena berbatasan dengan Perairan Selat Malaka,” kata Gus Irawan.

Sementara itu, Al Ustadz dari Tanjung Balai Thamrin Munthe mengatakan, kepedulian Gus Irawan untuk meningkatkan perekonomian nelayan tradisional di Batubara cukup tinggi, dibuktkan dengan kehadirannnya dari Medan ke daerah ini. “Jadi, wajar nelayan tradisional untuk mendukung Ketua Dewan Penasihat DPW PNTI Sumut itu menjadi Gubernur Sumut,” kata Munthe.

Data yang diperoleh menyebutkan, luas Kabupaten Batu Bara sekitar 922,2 Kilometer persegi yang terdiri dari tujuh kecamatan dan jumlah penduduk sebanyak 380.602 jiwa, dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) sebanyak 83.402 KK.

Artikel ini diakses melalui kata kunci:
kehidupan nelayan tradisional