full screen background image

Mengintip Seniman Tato ‘Tattoo Paradise’ di Washington, DC

Tato telah ada sejak berabad-abad lalu dalam berbagai budaya di dunia. Penduduk asli Jepang, Ainu, melukis wajahnya sesuai tradisi. Suku Maori di Selandia Baru, dan orang Arab di Turki Timur juga menato wajahnya.

Sejak 1990-an, tato telah menjadi bagian dari mode Barat dan dunia, umum bagi jenis kelamin apapun, berbagai golongan ekonomi dan kelompok usia, dari hampir 20 tahunan hingga setengah baya. Pada tahun 2010, boneka Barbie bahkan diproduksi dengan memakai tato, yang diterima secara luas, meskipun kontroversial.

Dalam hal yang berkaitan dengan tato, Matt Knopp sangat serius. “Pekerjaan saya, baik ketika datang untuk bekerja, maupun saat nongkrong bersama teman-teman, adalah menggambar tato. Saya tidak bisa memikirkan pekerjaan lain yang lebih baik,” ujarnya.

Knopp adalah pemilik panti tato ‘Tattoo Paradise’ di kawasan Adams Morgan, Washington, DC.

Ia memaparkan, “Ada beberapa orang yang bekerja dengan saya. Kalau saya bekerja dengan dokter, saya akan berteman dengan dokter. Kami semua bukanlah orang alim, tapi kalau Anda masuk ke panti tato saya, saya akan memperlakukan Anda dengan hormat”.

Seorang pelanggan Tattoo Paradise, Ian Palmiero,  mengatakan, “Orang yang bekerja di sini baik. Mereka memperlakukan orang lain dan pelanggannya seperti keluarga mereka sendiri.”

Tetapi jangan salah duga, pekerjaan menato tidak mudah dan sewaktu ditato rasanya sakit di tubuh. “Tidak ada yang menyenangkan sewaktu ditato. Sakit dan mengerikan, tidak nyaman. Tetapi saya terus melakukannya,” papar Palmiero.

Setiap dua minggu Ian Palmiero menderita karena goresan jarum tato dari Knopp untuk mendapat tato baru, seperti halnya kebanyakan orang Amerika yang menerima gaji mereka tiap dua minggu sekali. Hal itu bukan suatu kebetulan.

“Harganya bisa sepuluh ribuan dolar, atau bahkan 50.000 atau 60.000 dolar selama beberapa tahun. Bukan sesuatu yang murah,” papar Palmiero lagi.

Tetapi, harga itu terlalu tinggi bagi sebagian besar orang.

“Orang tidak mau membelanjakan uangnya. Jujur saja, tato yang bagus mahal biayanya. Mereka lebih suka mengeluarkan 200 dolar untuk membeli satu celana jeans atau 150 dolar untuk sepasang sepatu yang bisa dipakai selama waktu tertentu. Tetapi, mereka hanya mau membayar 30 dolar untuk sebuah tato yang awet selamanya,” ujar Knopp.

Meskipun Knopp pertama kali melukis tato untuk temannya sewaktu di SMA, ia memperingatkan agar orang jangan melakukan tato dengan seniman tato di jalanan.

“Jangan melakukannya dengan pelukis tato di pinggir jalan, karena dikhawatirkan bisa terkena infeksi. Siapa tahu, sudah berapa lama jarum atau tinta itu dipakai,” jelasnya.

Selain itu, kita tidak mau sembarang orang menggurat kulit kita dan tidak terhapus selamanya. “Pernahkan saya melakukan kesalahan? Tidak! Anda harus melukis dengan sempurna setiap kali, jadi, tidak, saya tidak pernah melakukan kesalahan,” aku Knopp.

Itu berita baik bagi orang seperti Ian Palmiero yang tidak ingin menghapus tatonya.

“Saya sudah kesakitan selama ditato, jadi saya tidak mau sakit lagi untuk menghapus tato itu. Kalau tubuh saya sudah dipenuhi tato, maka  saya senang,” ujar Palmiero.

Istrinya juga tidak keberatan, katanya, selama wajah dan lehernya tidak ditato, maka dia tidak perlu menghapus tato di bagian badan lainnya.

Pada tahun 2010, menurut hasil survei, sekitar dua dari lima orang atau 40 persen generasi muda Amerika yang berusia 20-30 tahun memiliki tato, sementara sekitar 25 persen warga Australia berusia di bawah 30 tahun bertato.

Artikel ini diakses melalui kata kunci:
tato kelamin,Tatto kelamin,foto tatto kelamin