full screen background image

Pembelajaran IPA melalui Mind Mapping

Mind Mapping

Mind mapping (peta pemikiran) mungkin tidak umum di telinga kita, jauh kalah terkenal dibandingkan dengan Concept Mapping (Peta Konsep) yang lebih sering dijumpai di buku-buku teks maupun lembar kerja peserta didik (LKPD).

Mind mapping sendiri merupakan media pembelajaran yang ditujukan untuk mempermudah siswa menemukan dan memahami materi pembelajaran yang telah disampaikan guru. Melalui mind mapping ini siswa tidak sekedar menuliskan dan menggambarkan konsep-konsep penting  tetapi juga materi dan penjelasan dengan bebas sesuai dengan kreativitas masing-masing. Perpaduan warna, gambar, dan simbol-simbol tertentu sengaja dibuat untuk mempermudah pemahaman.

Hal tersebut yang dicoba diterapkan oleh Ary Gunawan, Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta (FMIPA UNY), dalam kegiatan Program Pengalaman Lapangan (PPL) yang dilakukan di SMP Negeri 1 Muntilan. Objek peserta didik di kelas IX-E RSBI mendapatkan tugas membuat mind mapping materi pembelajaran Sistem Ekskresi yang telah disampaikan di kelas. Siswa antusias membuat mind mapping tersebut dengan kreativitas dan ide mereka sendiri.

“Dalam kegiatan PPL ini saya mencoba menerapkan ilmu yang saya peroleh di kampus. Mencoba membuat pembelajaran sains yang menarik dan tidak sekedar menyampaikan materi. Alhamdulillah, peserta didik kelas IX-E RSBI SMP Negeri 1 Muntilan telah mampu membuat dan mengekspresikan materi yang mereka peroleh selama pembelajaran di kelas melalui mind mapping. Hal ini terlihat dari karya anak-anak yang terkumpul sangat different, inovatif, unik, serta kreatif.” Ujar Ary Gunawan.

Karya yang terkumpul dalam mind mapping ini berjumlah 21 karya, sesuai dengan jumlah siswa kelas IX-E RSBI SMP Negeri 1 Muntilan. Atas konsultasi dan bimbingan dari Guru Pendamping IPA, Ibu Ummi Sa’adah, S.Pd., karya peserta didik dijadikan nilai tugas portofolio yang dapat digunakan untuk menunjang nilai kognitif-akademik peserta didik. Penugasan yang output dan outcome-nya diperuntukkan bagi peserta didik sendiri. Hasil karya akan dikembalikan ke peserta didik setelah dinilai sehingga dapat digunakan sebagai media belajar mandiri di rumah untuk persiapan ulangan harian maupun ujian semester dan kenaikan kelas.

“Mengerjakan mind mapping tidak begitu sulit, justru mengasyikkan karena sekaligus belajar kembali. Apalagi kalau memiliki bakat dan hobi menggambar mesti akan jauh lebih mengasyikkan dan hasilnya pun bagus.” Demikian disampaikan Waritsa Ilma, salah seorang peserta didik kelas IX-E.

Senada dengan Icha, Aulia, Milla, Luna, dan Asmi, yang tergabung dalam satu kelompok diskusi mengatakan bahwa mengerjakan mind mapping dengan berkelompok lebih menyenangkan karena dapat saling mengoreksi pekerjaan satu dengan yang lain. Mind mapping yang jadi pun bisa dijadikan ajang kompetisi untuk menampilkan produk yang terbaik dan terkreatif.

Waktu pengerjaan mind mapping ini cukup singkat sekitar 3 hari termasuk hari libur Minggu. Peserta didik memanfaatkan waktu libur untuk belajar dan berkreasi. Selama bulan ramadhan terdapat pengurangan kegiatan belajara mengajar efektif menjadi 30 menit setiap jam sehingga alternatif penugasan mind mapping ini dapat digunakan untuk menambah alokasi belajar mandiri siswa.

“Kami mengerjakan mind mapping di sela-sela waktu senggang selama ramadhan baik sebelum sahur maupun waktu ngabuburit menjelang berbuka puasa. Belajar efektif sehingga puasa terasa lebih bermanfaat tidak hanya untuk istirahat atau tidur saja.” terang Husna, Arum, Wahyu,Galih, Sekar, Dani serta Gandes yang juga teman sepermainan ini.

Pembelajaran Sains (IPA) memang seharusnya dibelajarkan dengan efektif dan menyenangkan. Dengan demikian peserta didik akan lebih mudah memahami dan mengaplikasikan sains (IPA) dalam kehidupan sehari-hari. Membudayakan dan mencitrakan cinta IPA sebagai pelajaran favorit bukan hanya sebagai momok yang menakutkan sebagai salah satu mata pelajaran yang di-UN-kan.

Artikel ini diakses melalui kata kunci:
mind map unik