SISTEM KAPITALISME; Tidak Dapat Membedakan Keinginan dan Kebutuhan

Santa-Capitalism by . Sejak system Kapitalisme diterapkan di muka bumi ini, nilai keagamaan, kemanusiaan, kemoralan dan keadilan semakin lama semakin hancur. Krisis demi krisis sudah dirasakan manusia dalam naungan system Kapitalisme sampai saat ini. Pandangan system Kapitalisme dalam masalah ekonomi adalah scarcity atau kelangkaan.

Pandangan ini didasari pada kenyataan bahwa ada batasan antara kebutuhan yang disebut tidak terbatas dengan alat pemuas kebutuhan yang terbatas. Karena alat pemuas kebutuhan tidak mencukupi kebutuhan, disitulah disebut adanya kelangkaan atau scarcity.

Untuk mengatasi kelangkaan tersebut, produksi harus dipacu. Jadi, Kapitalisme memiliki keharusan bahkan kewajiban untuk memproduksi barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Contohnya Uang, sebanyak apapun uang diproduksi, tetap saja banyak yang tidak memiliki uang. Atau makanan, sebanyak apapun makanan diproduksi dan dijual untuk memenuhi kebutuhan tetpa saja banyak orang yang tidak/ kekurangan makanan. Jadi, jika dikritisi masalahnya itu bukan pada kelangkaan atau scarcity, tetapi pada distribusi (penyaluran).

Pada hakikatnya kebutuhan itu sebenarnya terbatas, yang tidak terbatas itu adalah keinginan. Perbedaan antara kebutuhan dan keinginan adalah kebutuhan itu terbatas dan keinginan itu tidak terbatas. Jadi, kelangkaan itu sungguh tidak benar jika masyarakat mengerti akan perbedaan kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan itu jelas untuk kemakmuran rakyat sedangkan keinginan tidak lebih dari dorongan keinginan person atau kelompok yang sifatnya subjektif.

Konsep Ekonomi pada umumnya sekarang ini dilihat dari saat keinginan terpenuhi dan materi bisa diperoleh. Ini menimbulkan satu individu dan masyarakat yang menjadi materialisme sebagai pedoman kehidupan. Karena, bagi mereka tidak ada nilai yang lebih tinggi kecuali nilai materi. Kemudian nilai – nilai keagamaan, kemanusiaan, kemoralan dan keadilan jadi terabaikan. Jelas bahwa system Kapitalisme bentuknya nyata seperti itu.

Sekarang ini Kapitalisme mendorong kita pada suatu “industri keinginan”. Sudah tidak ada tawar menawar dalam hal ini, “industry keinginan” menjadi suatu kekuatan dalam kehidupan masyarakat diberbagai dunia khususnya Indonesia. “Industri keinginan” yang berusaha memuaskan keinginan kita bukan kebutuhan secara umum layaknya kebutuhan manusia yang ada batasnya.

Sekarang semuanya dijadikan sebagai Industri tanpa dapat dicegah oleh norma – norma yang ada. Hebatnya Industri dalam Kapitalisme bukan hanya sebagai manufaktur, bukan hanya barang – barang. Tetapi juga Hiburan tercakup salah satu didalamnya Olahraga. Bahkan juga Industri seks, karena dianggap sebagai alat pemuas!!!

Lebih jauh dari itu, politik juga dijadikan sebagai sebuah industry, karena muncul istilah – istilah cost politic dan money politic. Karena disana ada modal, kemudian ada untung dari setiap proses politik yang dilakukan. Saat politik sudah dijadikan industry seperti itu, siap – siap lah untuk kehancuran missal dalam kehidupan umat manusia. Industry Agama, itulah akibat dari Kapitalisme yang tidak disadari kita semua harus sadar.

Bahwa Agama telah dijadikan Industri atau bahkan “jualan” untuk keuntungan sekelompok manusia. Misalnya saat Idul Fitri atau Natal, umat beragama sibuk membeli aksesoris yang dikonversikan kedalam nilai jual, tanpa terpikir landasan atau dasar teologisnya. Padahal pada kenyataannnya manusia itu tidak hanya mendasarkan kepad materialaisme semata. Tentu ada nilai – nilai lain yang lebih substantive dan esensial dalam proses beragama.

Contohnya dalam Islam ekonomi itu didasarkan kepada agama, ada halal dan haram. Jadi, nilai tertinggi standarnya bukan materi, tetapi bagaimana keridhaan Allah SWT. Salah satu hal yang terpenting dalam kehidupan adalah kebahagiaan. Dalam Kapitalisme, kebahagiaan diukur dengan materialisme bukan jiwa dan raga atau jasmani dan rohani.

Kapitalisme sungguh membuat manusia menjadi robot – robot pekerja yang menghamba pada materi. Jadi mendorong pada keinginan, keinginan dan keinginan. Bukan pada kebutuhan yang lebih objektif dan kepentingan umum. Karena pada dasarnya manusia sudah tahu apa yang harus dibutuhkan. Kebutuhan utama manusia seperti Pakaian,Kesehatan, Pendidikan, Spiritual, Makanan, Minuman dan Tempat Tinggal seakan dikalahkan oleh keinginan lain yang sebetulnya tidak terlalu dibutuhkan.

Prilaku konsumtif dan tidak puas itulah akibat dari system Kapitalisme. “Khusus di Indonesia yang masyarakatnya sangat konsumtif tanpa bisa memproduksi”, Kapitalisme menjadi suatu yang “haram” untuk diterapkan di Indonesia. Walaupun pada dasarnya Kapitalisme bukan dasar Negara Indonesia, tetapi pada kenyataannya prilaku umumnya masyarakat Indonesia adalah Kapitalis dan pemerintah Indonesia seperti merestui Kapitalisme sebagai system kehidupan masyarakat Indonesia.

542164_3213829617001_1804076606_n by . Karena seharusnya secara sadar dan paham masyarakat Indonesia harus tahu bahwa Negara Indonesia ini sudah dikelola oleh perusahaan, dibuktikannya dengan adanya Undang-Undang Privatisasi BUMN, Pendidikan, Migas Sumber Daya Air dll.
Semoga, tulisannya bermanfaat dan harapannya masyarakat sadar akan Kapitalisme yang merusak.

Untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan saja system ini tidak mampu. Jelaslah bahwa system ini rusak dan tidak boleh diterapkan. Saya yakin Kapitalisme akan ambruk karena kecacatannya. Cepat atau lambat Kapitalisme akan runtuh, dibuktikan seperti sekarang ini dari kesenjangan social, kerusakan lingkungan, dan kerusakan-kerusakan lainnya. Masyarakat harus sadar dan bangun, jangan terlelap dalam buaian tidur system Kapitalisme dengan untung dan ruginya yang menyebabkan masyarakat menjadi konsumtif.

Sejak system Kapitalisme diterapkan di muka bumi ini, nilai keagamaan, kemanusiaan, kemoralan dan keadilan semakin lama semakin hancur. Krisis demi krisis sudah dirasakan manusia dalam naungan system Kapitalisme sampai saat ini. Pandangan system Kapitalisme dalam masalah ekonomi adalah scarcity atau kelangkaan. Pandangan ini didasari pada kenyataan bahwa ada batasan antara kebutuhan yang disebut tidak terbatas dengan alat pemuas kebutuhan yang terbatas.

Karena alat pemuas kebutuhan tidak mencukupi kebutuhan, disitulah disebut adanya kelangkaan atau scarcity.
Untuk mengatasi kelangkaan tersebut, produksi harus dipacu. Jadi, Kapitalisme memiliki keharusan bahkan kewajiban untuk memproduksi barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Contohnya Uang, sebanyak apapun uang diproduksi, tetap saja banyak yang tidak memiliki uang.

Atau makanan, sebanyak apapun makanan diproduksi dan dijual untuk memenuhi kebutuhan tetpa saja banyak orang yang tidak/ kekurangan makanan. Jadi, jika dikritisi masalahnya itu bukan pada kelangkaan atau scarcity, tetapi pada distribusi (penyaluran).

Pada hakikatnya kebutuhan itu sebenarnya terbatas, yang tidak terbatas itu adalah keinginan. Perbedaan antara kebutuhan dan keinginan adalah kebutuhan itu terbatas dan keinginan itu tidak terbatas. Jadi, kelangkaan itu sungguh tidak benar jika masyarakat mengerti akan perbedaan kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan itu jelas untuk kemakmuran rakyat sedangkan keinginan tidak lebih dari dorongan keinginan person atau kelompok yang sifatnya subjektif.

Konsep Ekonomi pada umumnya sekarang ini dilihat dari saat keinginan terpenuhi dan materi bisa diperoleh. Ini menimbulkan satu individu dan masyarakat yang menjadi materialisme sebagai pedoman kehidupan. Karena, bagi mereka tidak ada nilai yang lebih tinggi kecuali nilai materi. Kemudian nilai – nilai keagamaan, kemanusiaan, kemoralan dan keadilan jadi terabaikan. Jelas bahwa system Kapitalisme bentuknya nyata seperti itu.

 


CJ - Journalist

Author this Article : CJ - Journalist

CJ - Journalist wrote 1143 articles on this Citizen Journalism.