full screen background image

Rakyat Kupang Kelaparan, 2 Tahun Cuma Makan Pisang Rebus!

miskin by . Kupang – Sungguh ironis. Ketika rakyat disuguhi tontonan tentang gaya hidup para anggota DPR yang hedonis bermandikan harta. Kemudian berita tentang proyek-proyek DPR dan pemerintah yang menghambur-hamburkan uang rakyat sampai triliunan rupiah untuk hal-hal yang semestinya kurang perlu atau masih bisa dihemat. Ditengah itu semuanya, kini berhembus berita mengenaskan tentang kehidupan saudara-saudara kita di daerah Kupang, Indonesia Timur, yang sedemikian melaratnya. Kehidupan yang berbeda jauh bagaikan langit dan bumi dibanding hedonisme wakil-wakil mereka di DPR. Bahkan saking melaratnya, sampai-sampai saudara-saudara kita itu tidak punya cukup uang untuk membeli beras dan terpaksa bertahan hidup dengan memakan pisang rebus dicampur kelapa selama 2 tahun!

Kisah sedih tentang rakyat Indonesia ini datang dari Desa Muke, Kecamatan Amabi Oefeto Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Warga di desa itu harus rela menunggu berjam-jam di halaman rumah Kepala Desa hanya untuk membeli beras murah untuk orang miskin (Raskin) lantaran saat ini sebagian warga Desa Muke sudah mulai mengkonsumsi pisang rebus dicampur kelapa karena persediaan beras mereka semakin menipis. Hal itu disebabkan oleh kegagalan panen jagung dan padi yang merupakan mata pencaharian penduduk di desa tersebut.

Menurut pernyataan salah seorang warga desa Muke bernama Yunus Kause (50 tahun), yang ditemui wartawan saat yang bersangkutan tengah mengantri berjam-jam menunggu pembagian Raskin, pada hari Kamis (2/3/2012) yang baru lalu, diungkapkan bahwa selama dua tahun terakhir ini mereka terpaksa harus bertahan hidup dengan memakan pisang rebus dicampur kelapa akibat kegagalan panen jagung dan padi yang merupakan mata pencaharian mereka. “Tahun ini jagung kami mengalami gagal panen karena hujan yang tidak menentu, maka itu ketergantungan kita terhadap raskin cukup tinggi, sehingga kami harus rela menunggu lama dalam pembagian jatah raskin ini,” tutur Yunus dengan wajah pasrah.

Selama dua tahun belakangan ini Yunus yang mempunyai 5 orang anak ini mengaku bahwa warga desa Muke selalu mengalami gagal panen, sehingga mereka terpaksa harus rela mengkonsumsi pisang rebus dan kelapa untuk mengisi perut dan bertahan hidup. Menurutnya, kadang kala ada juga warga yang makan nasi, namun hal itu hanya bisa mereka lakukan kalau mereka kebetulan memiliki uang untuk membeli beras. “Jika ada uang kami hanya bisa membeli empat kilogram, itu pun hanya bisa bertahan satu minggu, selanjutnya kami harus makan pisang lagi,” ujar Yunus.

Hal senada juga diungkapkan oleh Usian Rini (46 tahun) warga RT 08, dusun III Nifukou, yang saat ditemui sedang mengangkut 47 Kg Raskin, “Kami senang sekali dapat jatah raskin karena kami lebih sering makan pisang dan kelapa. Memang ada juga jagung tapi sampai sekarang ini belum bisa dipanen. Jagung yang kami panen ini juga tidak terlalu banyak hasilnya, mungkin hanya cukup untuk dua sampai tiga minggu,” katanya.

Disamping itu, warga juga mengatakan hasil kebun mereka tidak menentu karena musim hujan yang berubah-ubah sehingga tahun ini pun akan banyak petani di desa tersebut yang akan mengalami gagal panen lagi seperti tahun lalu.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Desa Muke, Anderias Lopo, mengatakan bahwa desanya akan mengalami situasi rawan pangan. Menurutnya, sejak dua tahun belakangan ini desa Muke selalu mengalami gagal panen sehingga warga setempat harus bertahan hidup dengan makan pisang rebus dicampur kelapa. “Memang ada jagung tapi tidak semua warga yang memiliki stok, hanya sebagian saja yang memilikinya. Untuk itu mereka yang tidak punya harus mengkonsumsi pisang dan kelapa,” ungkap Anderias saat ditemui di tempat kediamannya.

Anderias berharap agar pihak Depot Logistik (Dolog) jangan terlalu lama mendistribusikan beras Raskin. Sebab, lanjut Anderias, walaupun pihaknya telah cukup lama menyetor uang ke Dolog, namun pendistribusiannya harus menunggu lama karena alasan masih menunggu desa lain.

Disamping itu Anderias juga mengeluhkan masalah kelambatan pendistribusian bibit jagung yang dibagikan oleh Kecamatan. Menurutnya, bibit jagung untuk warga desa Muge baru dibagikan pada bulan ini, sehingga kalau diambil pun tidak ada gunanya karena musim tanam sudah lewat.

Demikianlah kisah memilukan dari saudara-saudara kita yang hidup sengsara di belahan Indonesia Timur. Semoga jeritan mereka bisa mengetuk hati pemerintah dan para wakil rakyat di DPR yang hidup mewah dan hedonis dari hasil uang rakyat yang sebagian besar masih sengsara dan menderita.

 

Artikel ini diakses melalui kata kunci:
rakyat kelaparan