full screen background image

Pemburu Novel Ternyata Terlibat Kasus Pembunuhan & Pemerasan

Kombes Pol Dedy Irianto Pernah Terlibat Kasus
Pembunuhan dan Pemerasan?

Jakarta – Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Bengkulu Kombes Pol Dedy Irianto, yang mencoba menangkap penyidik KPK Novel Baswedaan atas dugaan kasus tindakan penganiayaan berat, ternyata juga tersandung kasus hukum. Ia terlibat kasus pemerasan dan penembakan yang menewaskan Edi Purwanto alias Edi Bagong, warga Bindungrian, Juli lalu. Hal tersebut dilontarkan Kabid Humas Polda Bengkulu, Hery Wijyanto.

Menurut Hery, saat itu penembakan terpaksa dilakukan karena pelaku, yang berjumlah sekitar 30 orang melakukan pelemparan ke arah mobil polisi. Pelaku, lanjutnya, melakukan pelemparan dengan batu. Upaya itu ditujukan untuk melumpuhkan anggota polisi yang akan mengamankan daerah tersebut. “Jadi polisi terpaksa menembak untuk melindungi diri dari serangan pelaku yang menyerang terlebih dahulu,” ujar Hery, seperti dikutip rakyatbengkulutv.

Tak hanya itu, Pol Dedy Irianto juga pernah dilaporkan atas kasus pemerasaan terhadap Bupati Batang Jawa Tengah pada 2005. Berdasarkan surat laporan yang dibuat sebuah LSM pada tahun 2005 lalu, Dedy diduga terlibat pemerasaan yang dilakukan terhadap Bupati Batang, Jawa Tengah (Jateng), pada tahun 2005.

Dalam laporan kasus yang diduga melibatkan Dedy, disebutkan pada tahun 2005, personel polisi yang masih berpangkat AKBP itu, bersama rekannya Kompol Nilo Arie Seno, pernah ditugaskan Mabes Polri untuk menyidik sejumlah dugaan korupsi anggaran APBD Tahun Anggaran (TA) 2003 yang dilakukan Pemerintah Daerah Kabupaten Batang.

Laporan pengaduan Gertak yang diajukan ke Polda Jawa Tengah (Jateng), tertanggal 30 Desember 2005 itu, menyebutkan alih-alih menyidik, kedua petugas itu malah mendatangi Bupati Batang dan memeras yang bersangkutan agar kasusnya tidak ditindaklanjuti. Gertak menyebutkan saat itu Bupati Batang akhirnya memenuhi permintaan Dedy dan rekannya dengan menyerahkan uang sebesar Rp300 juta.

“Dana Rp300.000.000 tersebut diperoleh Bupati Batang dengan meminjam salah satu Bank BKK di Batang dan Bank Syariah di Pekalongan atas nama para pejabat Pemkab Batang. Dan diserahkan kepada Tim Penyidik Mabes Polri yang angtara lain terdiri dari Bpk. AKBP Dedy Irianto dan Kompol Drs Nilo Arie Seno,” tertulis dalam dokumen surat pengaduan Gertak, seperti dirilis beritasatu.com hari ini.

Surat pengaduan Gertak bernomor 030/GERTAK/XII/05 itu dikirimkan ke Kepala Kepolisian RI (Kapolri) pada tanggal 30 Desember 2005, dengan tembusan kepada Presiden RI, Wapres, Jaksa Agung, Kabareskrim, Ombudsmen RI, dan ICW.

Seperti diberitakan sebelumnya, Direskrimum Polda Bengkulu Kombes Dedy Irianto bersama tujuh petugas Kepolisian yang terdiri dari Polda Bengkulu dan Polda Metro Jaya mendatangi gedung KPK pada Jumat (06/10), sekitar pukul 18.30, untuk menciduk penyidik KPK Kompol Novel Baswedan. Novel akan ditangkap dengan tuduhan melakukan penganiyaan hingga menewaskan seseorang saat bertugas di Polda Bengkulu tahun 2004 silam. [beritasatu/Slm]

Artikel ini diakses melalui kata kunci:
kompol nilo arie seno