full screen background image

Masyarakat Sudah Kena Imbas Inflasi Meski BBM Belum Naik

Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis solar dan premium tinggal menghitung hari. Sementara, rencana kenaikan harga BBM yang telah bergulir beberapa bulan terakhir, mulai menimbulkan dampak kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok.

bbm_naik2“Menunda-nunda kenaikan harga BBM sama saja menambah beban ekonomi masyarakat”, ujar salah seorang dosen perguruan tinggi swasta di Palembang Abdullah Oni, Senin (10/6).

Menurut dia, masyarakat miskin yang berada di pinggiran kota atau pelosok desa sudah membeli BBM dengan harga lebih dari Rp 6.500 per liter. Harga ini jauh lebih mahal dari harga yang akan dinaikkan pemerintah. Penyebabnya, Stasiun Pengsian Bahan Bakar Umum (SPBU) di sekitar di pelosok selalu kehabisan stok akibat pasokan dikurangi.

Sementara Ketua Yayasan Lembaga Konsumen (YLK) Sumatera Selatan Hibzon Firdaus mengatakan, pihaknya mendukung pemerintah untuk segera menaikkan harga BBM karena sekarang ini sejumlah harga kebutuhan pokok sudah lebih dahulu naik.

“Jika memang harus naik, segera naikkan saja harga BBM dan masyarakat miskin yang paling menderita akibat kenaikan itu diberikan kompensasi yang tepat sesuai yang dijanjikan pemerintah,” ujarnya.

Menurut Hibzon, kompensasi kenaikan harga BBM perlu disiapkan dengan baik sebagai langkah antisipatif untuk mengurangi beban masyarakat miskin dan yang berpenghasilan rendah. Masyarakat yang diprediksi akan mengalami kesulitan dari dampak kenaikan harga BBM perlu dibantu, namun bantuan yang diberikan hendaknya tidak bersifat memanjakan.

Menurut rencana pemerintah akan memberikan kompensasi kepada masyarakat miskin dan berpenghasilan rendah berupa program khusus yaitu bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM) dan program infrastruktur. Selain itu akan memperluas Program Percepatan dan Perluasan Perlindungan Sosial atau P4S. (CJ/Antara)