full screen background image

Jokowi Pemimpin Fenomenal Dambaan Rakyat Indonesia

Jakarta – Joko Widodo yang akrab disapa Jokowi yang penuh dengan keteladanan. Kepemimpinannya di Indonesia sangat langka dan patut dijadikan contoh dalam memimpin bangsa ini. Pemimpin Indonesia saat ini termasuk pejabat negara, bupati, gubernur, para Menteri termasuk kepempimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini kebanyakan omong kosong belaka, jarang terlihat wujud riil dari program yang terkait dengan kepentingan rakyat. Kita lihat banyak pejabat negara yang hidup dalam hedonisme dan kemewahan dari hasil uang rakyat dan uang negara yang digunakan untuk kepentingan diri sendiri.

Joko Widodo menjadi sosok teladan yang patut ditiru pejabat publik lainnya di Indonesia, bukan malah tindakan Jokowi yang memiliki integritas tinggi dan moralitas yang baik terhadap rakyatnya, itu sebaliknya dicibir pejabat lainnya, bahkan sampai dihina, dibodoh-bodohkan, apalagi dikatakan untuk pencitraan. Misal, tindakan Jokowi menggunakan mobil dinas dari hasil karya anak bangsa Ini adalah contoh nyata, bahwa dia mencintai produk Indonesia, bukan munafik seperti pejabat negara lainnya. Jokowi menunjukkan integritasnya bahwa setiap pernyataan yang muuncul dari seorang pejabat negara harus sama dengan aksi nyata di lapangan.

Sosok Jokowi ini dapat membawa perubahan bagi bangsa Indonesia, di tengah para pemimpin bangsa yang hidup dalam hedonisme dan materialisme. Sifat-sifat dan karakter kepemimpinan Jokowi harus dijadikan contoh bagi para pemimpin bangsa Indonersia lainnya. Kepemimpinan model Jokowi ini sangat didambakan seluruh masyarakat Indonesia, sekaligus memunculkan harapan bahwa ternyata di Indonesia masih ada sosok pemimpin yang bisa dipercaya untuk memangku jabatan secara amanah dan jujur. Kini Jokowi menjadi tokoh dambaan rakyat yang mengharap perubahan.

Jokowi seorang birokrat yang kreatif, responsif, merakyat dan tentu saja disenangi masyarakat. Bagi masyarakat kota Solo sendiri, kredibilitas dan kapabilitas Jokowi sudah tidak mereka ragukan lagi. Sebab Jokowi sudah kedua kalinya dipilih sebagai Walikota Solo. Yang signifikan dari keterpilihannya yaitu suara rakyat Solo yang diberikan kepada Jokowi dalam Pilkada periode kedua, nyaris sempurna. Yaitu mencapai 96%.

Sorotan terhadap Jokowi cukup fenomenal. Sorotan lebih banyak bersifat apresiasi. Bukan hujatan. Sorotan tidak lagi menyindir para pejabat pemerintah yang gemar melakukan korupsi tetapi sekadar mengatakan, tirulah cara Walikota Solo.

Dampak dari apresiasi itu, Jokowi sangat layak menduduki jabatan yang lebih tinggi semisal menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Seninya, walau pun Jokowi diuji, disanjung dan dianggap sebagai sosok yang mampu merestorasi Jakarta sebagai ibukota NKRI, tetapi Jokowi tetap merendah. Jokowi adalah potret pemimpin masa kini yang tidak membayar media untuk pencitraannya.

Tapi apa pun sorotan dan apresiasi terhadap Jokowi, substansinya, adalah rakyat Indonesia saat ini merasakan adanya kekosongan pemimpin yang bisa diteladani. Apresiasi terhadap Jokowi merupakan potret paradoksal dari banyak kejadian di tanah air.

Lihat saja di Papua, Papua Barat, Sampang dan Kaimantan Tengah, rumah para pemimpin (Gubernur dan Bupati) di daerah itu dibakar massa secara beramai-ramai. Tragisnya tidak ada yang membela para pemimpin itu. Aparatur kepolisian yang seharusnya menjaga ketertiban masyarakat, tidak mampu mencegah emosi massa yang berbondong-bondong membakar rumah para pemimpin di daerah itu.

Sorotan terhadap Jokowi terjadi di saat para pemimpin formal baik yang ada di eksekutif, legislatif dan yudikatif, terus berlomba melakukan korupsi, pembohongan kepada publik dan memprioritaskan kepentingan pribadi. Pemimpin yang ada di tingkat nasional mulai dari Presiden, tidak lagi dianggap sebagai tokoh yang bisa diteladani.

Semakin banyak Indonesia memiliki tokoh fenomenal seperti Jokowi, semakin baik bagi masa depan bangsa. Sebab kelak, ketika Indonesia harus mencari dan memilih pemimpin, tidak akan ada kesulitan. Indonesia bisa memilih pemimpin yang terbaik di antara yang terbaik. Bukan yang terbaik di antara yang terburuk. Indonesia perlu stok pemimpin yang kreatif dan dicintai rakyat seperti Jokowi.

Benar apa yang dikatakan oleh Syahrul Kirom, salah seorang mahasiswa alumnus Program Master Filsafat, UGM, bahwa bangsa Indonesia saat ini memang telah mengalami krisis kepemimpinan, krisis teladan yang baik dan miskin moral para pejabat negaranya. Mereka banyak menggunakan fasilitas negera, untuk kehidupan yang mewah demi memenuhi hawa nafsu dan keinginannya. Kebanyakan pejabat negara tidak mampu mengontrol diri dan terjerumus ke gaya hidup mewah. Sikap sederhana mulai hilang dalam nalar pikiran pejabat publik.

Krisis moral itu muncul akibat kejahatan yang dilakukan pemimpin bangsa. Mereka memahami bahwa kejahatan seperti korupsi, perampokan dan peristiwa amoral lainnya telah dianggap biasa. Hati nurani manusia seolah-olah tidak digunakan, hati nurani telah mati. Padahal tindakan manusia itu telah menyalahi kodrat dan tatanan normatif dengan nilai-nilai kemanusiaan. Krisis moral melanda pemimpin bangsa seperti praktik ketidakjujuran atau kebohongan publik dan praktik korupsi, melainkan juga sebagai upaya mengikis sikap opurtunis, krisis kepercayaan yang sesungguhnya telah menghancurkan peradaban bangsa Indonesia.

Praktik korupsi sampai sekarang ini masih terus berjalan, mulai dari dilakukan menteri, gubernur, bupati, walikota, anggota DPR/DPRD, pejabat birokrasi, pejabat perbankan, kepabeanan dan pegawai pajak beramai ramai melakukan korupsi. Itu menunjukkan adanya dominasi pertimbangan yang tidak etis di kalangan pejabat. Degradasi moral telah melanda pemimpin bangsa, karena mereka tidak mampu menjalankan prinsip-prinsip kejujuran dan tidak memiliki integritas moral yang tinggi.

Krisis keteladanan, pejabat negara biasanya hanya berpidato secara normatif melalui pernyataan-pernyataan yang tanpa makna. Pejabat publik tidak pernah turun ke lapangan melihat kondisi nyata penderitaan dan kemiskinan rakyat.

Jokowi adalah walikota Solo yang telah memberikan contoh dalam kinerja untuk turun langsung di hadapan rakyatnya dan berdialog untuk mendengarkan keluh kesah rakyatnya, sehingga bisa membuat kebijakan yang langsung menyentuh kepentingan mereka.

Dalam konteks persoalan bangsa Indonesia, tentang kekuasaan yang sudah semestinya digunakan untuk mengabdi kepada rakyat Indonesia. Ini sebenarnya panggilan hati nurani pemimpin. Akan tetapi, hati nurani telah diputarbalikkan. Manusia sering kali menyalahgunakan kekuasaan hanya untuk kepentingan diri sendiri dan kelompoknya. Hal ini tentunya melanggar dari suara hati, dengan begitu hati nurani berperan dalam menuntut bagaimana manusia berpikir dalam mengambil tindakan yang baik dan buruk. Hati nurani adalah sumber kewajiban yang menuntut manusia ke jalan kebenaran dan kebaikan.

Perilaku baik dalam bentuk kesederhanaan, kejujuran, kedisiplinan telah dicontohkan oleh Jokowi sebagai pejabat publik yang penuh dengan nilai-nilai moralitas, memperhatikan betul nasib rakyatnya demi kesejahteraan dan kemakmuran seluruh kepentingan rakyat Indonesia. Dengan demikian, cara dan sistem kinerja yang contohkan Jokowi ini adalah upaya membangun moralitas dan kesederhanaan dari seorang pejabat pejabat. Sangat baik jika apa yang dilakukan Jokowi dalam menjalankan kinerjanya bisa diwujudkan oleh pejabat negara lainnya.

Semoga saja dengan munculnya pejabat atau pemimpin daerah seperti Jokowi, dapat menyadarkan semua pihak untuk melakukan restrospeksi. Harapan yang lebih tinggi, semoga saja pemimpin sekaliber Jokowi dapat lahir di berbagai tempat di Indonesia.

Artikel ini diakses melalui kata kunci:
artikel kepemimpinan jokowi,makalah tentang jokowi,artikel sosok pemimpin negara,artikel sosok pemimpin,Jokowi pemimpin masa depan,tindakan jokowi,essay mengenai kepemimpinan jokowi,Essay tentang jokowi,contoh esai tokoh pemimpin,contoh esai sosok pemimpin