full screen background image

Dunia Internasional: Reputasi Presiden SBY Rusak

Seattle – Presiden SBY menjadi sorotan civitas akademi di berbagai lembaga di Amerika dan dunia internasional karena korupsi yang merajalela dan merusak kredibilitas pemerintah maupun partai politiknya, Partai Demokrat.

Demikian benang merah pandangan yang disampaikan para akademisi, mahasiswa dan para professional di berbagai lembaga di AS. Korupsi sangat marak dan merusak reputasi pemerintahan SBY. “Korupsi luar biasa, masyarakat Indonesia mungkin kian kecewa,” kata Prof Lauries Sears, Direktur Southeast Asia Center, University of Washington, dalam percakapan dengan penulis di Seattle, akhir pekan lalu.

“Dari era Orde Baru, korupsi sudah meluas. Kini korupsi makin merajalela. Apakah pemerintah sekarang tidak belajar dari kelemahan masa lalu? Oh, sangat memprihatinkan,” tambah Arlene Lev, peminat studi Indonesia dan istri almarhum Prof Daniel S Lev yang bersama Laurie Sears, dikenal sebagi ‘ibu asuh’ anak-anak Indonesia di Universitas Washington, Seattle.

“Sayang sekali bahwa kesempatan SBY untuk mereformasi tata kelola birokrasi, penegakan hukum dan ekonomi-politik di Indonesia menjadi hilang atau sia-sia,” papar Sirajuddin Abbas, kandidat PhD di Universitas California Berkeley.

Bangsa Indonesia, tambah Sirajuddin, dilumpuhkan oleh jerat korupsi yang tak berkesudahan gara-gara penegakan hukum yang sangat lemah. “Masyarakat internasional menyoroti pemerintah saat ini tidak berdaya mengatasi KKN,” kata Sirajuddin Abbas, dosen UIN Syarif Hidayatullah Ciputat yang tak lami lagi merampungkan PhD di UC Berkeley itu.

Para professional dari Indonesia di Boeing pun umumnya sangat kecewa dengan maraknya KKN yang melilit lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif di Tanah Air. Seakan kemunduran moral makin tajam dan menggelincir ke jurang dalam.

“Korupsi sudah mengerikan, saya di sini mengamati dari jauh namun korupsi itu terasa makin dekat sebagai penyakit sosial yang gagal diatasi pemerintah. Ini tantangan serius bagi elite Jakarta untuk membasmi korupsi,” kata ahli aeronatika Ir Dudi Prasetio, yang juga peminat kajian agama dan sosial serta alumnus IPTN yang kini berkiprah di Boeing Co.

Alumnus Universitas Sriwijaya Ir Effendy yang berdomisili di AS dan tengah studi di Seattle meminta pemerintah tegas menegakkan hukum agar KKN bisa dipangkas. Kalau tidak, nama Indonesia tenggelam di lautan korupsi yang makin dalam. ”Saya masih berharap Presiden SBY berani menegakkan hukum tanpa pandang bulu, membantu KPK menghapus KKN,” tutur peminat studi Indonesia itu.

Tak mengherankan jika majalah ekonomi terkemuka di dunia, The Economist dalam tajuknya baru-baru ini yang juga dimuat di versi online memperkirakan, atau tepatnya memastikan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak termasuk dalam kelompok orang Indonesia yang sukses mengelola negara dan partainya. Setelah kemenangan yang mendebarkan pada pemilihan Presiden 2009, secara alamiah posisi SBY tergelincir. ‘’Setidaknya dalam beberapa bulan terakhir,” tulis The Economist.

Tidak sampai disitu, The Economist dengan terang-terangan menyebut SBY kini sudah tampak seperti lame duck alias bebek lumpuh. “Barely half-way through his second term, Mr Yudhoyono already looks like a lame duck,” tulis The Economist.

”SBY harus membaca majalah the Economist itu dan mendorongnya untuk berbuat yakni menegakkan hukum,” timpal Effendy.

Di sisi lain, The Economist menyoroti performa buruk Partai Demokrat yang dibangun oleh SBY. Dalam Pemilu 2009, partai ini mendulang suara cukup signifikan, sebesar 21 persen. Ini semacam lompatan yang luar biasa dari perolehan suara dalam pemilu sebelumnya yang hanya 7 persen. Dalam jajak pendapat terakhir yang dikutip The Economist juga terlihat betapa partai yang kini dipimpin Anas Urbaningrum itu hanya memiliki popularitas sebesar 13,7 persen.

Untuk menggambarkan kondisi yang dialami Partai Demokrat ini, The Economis mengutip pernyataan salah seorang petinggi partai itu, Hayono Isman, yang sebelum bergabung dengan Partai Demokrat dikenal sebagai dedengkot Partai Golkar. Menurut Hayono, Partai Demokrat tengah menghadapi tantangan terbesar dalam sejarah.

Ada dua hal utama yang membuat baik SBY maupun Partai Demokrat, tergelincir. Pertama, adalah persoalan korupsi yang melilit sejumlah petinggi partai sehingga membuat partai itu mendulang simpati negatif publik. Kedua, persepsi publik yang kuat mengenai ketidakmampuan SBY, atau dengan kata lain, publik cenderung menganggap SBY kehilangan otoritas.

Sikap SBY yang belum mengambil tindakan tegas, terutama untuk orang-orang di sekitarnya, baik yang berada di kabinet maupun di Partai Demokrat, semakin hari semakin memperlemah otoritasnya. Ini akan membuat SBY, seorang mantan jenderal militer, sulit membawa reformasi yang dibutuhkan bangsa ini.

 

Artikel ini diakses melalui kata kunci:
sby korupsi,presiden-presiden di dunia,reputasi sby,sby di amerika