full screen background image

Akibat Drainase Buruk, Jalan Amplas dan Belawan Macet

MEDAN- Anomali cuaca dan buruknya sistem drainase di Kota Medan, akibatkan sejumlah ruas jalan digenangi air dan macet hingga belasan kilometer selama 3 jam. Kemacetan tak hanya terjadi dijalan lintasan biasa saja, melainkan di ruas tol dan jembatan fly over Amplas teradi kemacetan. Guyuran hujan terjadi dua kali, Sabtu (13/10) sekira pukul 12.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB, tapi hujan kembali mengguyur Kota Medan secara menyeluruh pada pukul 15.00 hingga pukul 16.15 WIB.

Akibat curah hujan deras yang turun itu, ruas jalan di Kota Medan seperti di Jalan Sisingamangaraja tepatnya di depan gerbang tol Amplas banjir sedalam 40 centimeter, bukan itu saja di depan Mapoldasu juga digenangi air setinggi lutut orang dewasa.

Masih di jalan yang sama, di depan PT Bisma Niaga Lestari digenangi air sedalam 50 centimeter, akibatnya puluhan kendaraan roda dua dan angkutan kota terjebak mogok. Titik banjir di Jalan Sisingamangaraja juga terjadi di depan Apotek K24 Simpang Limun serta Aklindo.

Genangan air di sepanjang Jalan Sisingamangaraja mengakibatkan kemacetan hingga belasan kilometer. Mulai Jalan Tritura mendekati simpang Titi Kuning hingga taman Rivera Medan, perbatasan Kota Medan dengan Deliserdang. Uniknya, sepanjang jalan tersebut traffic light padam, sedangkan petugas yang berjaga bisa dihitung dengan jari. Petugas kepolisian yang berjaga ada di perisimpangan Mariendal-Jalan Tritura, di depan SPBU dan Terminal Amplas.

Sedangkan di sejumlah titik lainnya tak ada penjagaan petugasan satuan lalu-lintas dari kepolisian maupun dari Dinas Perhubungan. Parahnya, di pintu keluar tol Amplas terjadi kemacetan panjang hingga ke dalam ruas tol dikarenakan banjir dan pengendara yang hendak masuk ke Jalan Sisingamangaraja tak bisa, dikarenakan sudah terjadi penumpukan kendaraan di Jalan Sisingamangaraja ke arah inti Kota Medan. Kondisi diperparah sepanjang fly over Amplas dipenuhi kendaraan dan macet.

Kemacetan panjang itu terjadi mulai pukul 16.00 WIB hingga pukul 19.00 WIB, terurainya kemacetan setelah genangan air di Jalan Sisingamangaraja depan PT Bisma Niaga Lestari mulai surut, dan dibaginya jalan arah Kota Medan ke Tanjungmorawa, sehingga kendaraan dari arah Tanjungmorawa menuju Kota Medan bisa menghindari banjir di depan PT Bisma Niaga Lestari. Di jalan tersebut, pengendara harus masuk ke dalam banjir dikarenakan kendaraannya mogok.

Kemudian, warga sekitar juga memanfaatkan kondisi itu menjadi lahan untuk mendapatkan rupiah. Seorang pengendara yang ditemui di Jalan Sisingamangaraja, Raiz (39) mengatakan, sepeda motornya mogok dikarenakan knalpotnya kemasukan air saat melintasi genangan air di depan PT Bisma Niaga Lestari. Pengendara lainnya, Riyan (32) mengungkapkan, selama ini bila hujan deras turun, banjir terjadi di Jalan Sisingamangaraja.

Bahkan kondisinya sudah berulang kali menyebabkan kemacetan panjang hingga ke Tanjungmorawa. Sementara itu, warga lainnya, Ibas (24) mengatakan, banjir di depan PT Bisma Niaga Lestari menambah pundi-pundi rupiah baginya. Pasalnya, setiap hujan deras dan menyebabkan kendaraan mogok ada banyak pengendara yang meminta didorongkan. Yah biasalah, bisa Rp50 ribu juga dapat saat banjir, katanya.

Sementera itu, Kanit Lantas Polresta Medan, AKP Imam mengatakan, banjir dikarenakan permasalahan drainase menyebabkan kemacetan panjang hingga ke dekat perbatasan Kota Medan dan Deliserdang. Untuk mengurainya, terpaksa dibagi arus jalan yang harusnya arahnya Kota Medan menuju Tanjungmorawa dilintasi juga oleh kendaraan dari arah Tanjungmorawa menuju Kota Medan.

Kami berharap agar permasalah drainase yang kurang sehat dapat segera diperbaiki cepat. Sehingga, kedepannya bila hujan deras turun. Banjir dan kemacetan tidak akan terjadi lagi, ujarnya. Di Medan bagian Utara, sebanyak tiga kecamatan terendam banjir diakibatkan buruknya sistem drainase di Kota Medan. Ketiga kecamatan tersebut, Medan Labuhan, Medan Deli dan Medan Marelan.

Banjir terjadi di Jalan Kapten Rahmad Buddin Lingkungan, VI, XI dan XII Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan. Warga setempat menilai, kondisi drainase yang tidak mampu menampung debit air menjadi pemicu tergenangannya rumah-rumah warga. Kalau disini baru hujan sebentar saja sudah pasti terendam, karena paritnya sering meluap akibat tak mampu menampung air hujan yang turun, ujar seorang warga, Zainuddin (41).

Menurut dia, selain kondisi drainase yang buruk, dampak dari terjadinya banjir disebabkan oleh maraknya penimbunan lahan kosong untuk proyek pembangunan perumahan.Karena pembangunan perumahan terus meningkat, lahan atau daerah resapan air disini pun mulai hilang, dan berimbas pada terjadinya banjir, ungkapnya. Genangan banjir juga terjadi di Jalan Platina VII Lingkungan II Kelurhan Titi Papan Kecamatan Medan Deli.

Menurut Kepling II Kelurahan Titi Papan, Syafaruddin menuturkan, penyebab genangan air terjadi dikarenakan sebahagian besar permukiman warga di lingkungan belum tersentuh pembangunan drainase. Kita sebelumnya juga sudah pernah mengajukan ke Pemko Medan melalui musrenbang di kelurahan, supaya di lingkungan ini dibangun drainase, tapi sampai saat ini belum juga terealisasi, terangnya.

Selain permukiman warga, genangan banjir juga merendam badan Jalan KL Yos Sudarso Km 17 Simpang Kantor Kecamatan Medan Labuhan. Sejumlah kenderaan baik sepeda motor maupun roda empat serta truk pengangkut barang yang terjebak banjir, tampak antre hingga menimbulkan kemacetan sepanjang 2 km. Parah kali banjirnya, sampai menimbulkan kemacetan seperti ini, keluh, Armansyah (35) seorang pengendara sepeda motor saat melintasi jalan tersebut.

Sementara itu, Kepala Data dan Informasi BMKG Stasiun Polonia Medan, Mega Sirait mengatakan, hujan yang turun di Kota Medan dan sekitarnya, Sabtu (13/10) masuk dalam kategori deras. Hujan deras masih tetap berpeluang turun, begitu juga hujan disertai angin kencang, dalam minggu ini masih tetap ada, katanya. Tak hanya Kota Medna, tapi wilayah pesisir Pantai Timur seperti Deliserdang, Langkat, Sergai, Asahan dan Labuhanbatu.

Menanggapi terjadinya banjir tersebut, Pengamat Tata Kota, Ir Bhakti Alamsyah MT Cand PhD mengatakan, Kota Medan tak akan bisa terbebas dari banjir jika Pemko Medan tak memegang komitmen memperbaiki drainase di Kota Medan. Sistem drainase di Kota Medan sangat buruk, karena banyak yang tak terkoneksi antara satu drainase dengan yang lainnya, akibatnya ketika air hujan turun tak tertampung dan meluap ke jalan, katanya. Dia menyarankan kepada Pemko Medan untuk memperbaiki drainase itu bukan perkawasan per kecamatan atau kelurahan, melainkan satu-kesatuan koneksi drainase. (omi/jon/mag-17)