full screen background image

Tawuran Pelajar Merupakan Solideritas KELIRU Yang Tersistem

BOGOR- Serangkaian seremoni penangkal tawuran yang digawangi aparat kepolisian dan stakeholders pendidikan Bogor, belum membuahkan hasil nyata. Buktinya, hingga kemarin aksi tawuran pelajar tak kunjung mereda. Pantauan Radar Bogor, tawuran antara puluhan pelajar SMK terjadi di Jalan Sholeh Iskandar, sekitar Kampus Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor.

Dalam bentrokan tersebut, seorang pelajar berhasil diamankan sejumlah anggota Polisi Militer Lanud Atang Sanjaya yang kebetulan sedang berada di lokasi kejadian. Selain itu, sebanyak 20 pelajar pun diamankan Polsek Caringin, lantaran kedapatan membawa senjata tajam, seperti simbal dan gir motor. Infonya, pelajar BCI dan YZA akan tawuran di Ciherangpondok.

Makanya kami cegat mereka, ujar Kapolsek Caringin, AKP Hasan, kemarin. Di balik aksi saling serang antarpelajar, terdapat variabel terukur yang menjadi biang terlaksananya tawuran. Hasil penelitian Angga Tamimi Usman dari Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor (IPB) menyebutkan, solidaritas kelompok menjadi motivasi utama para pelajar pelaku tawuran.

Dari 40 pelajar pelaku tawuran yang dipilih dengan metode purposive sampling, sebanyak 62,5 persen mengaku terlibat dalam karena solider atau setia kawan. Sebanyak 25 persen menganggap tawuran sebagai rutinitas dan iseng saja, cukup besar untuk alasan abstrak. Penyebab tawuran karena permasalahan sebelumnya sebanyak 7,5 persen, itu membuat tradisi kekerasan kian mengakar dan sulit untuk diurai. Sedangkan karena kalah dalam pertandingan olahraga dan permasalahan pribadi, masing-masing sebanyak 2,5 persen.

Tepat sekali, mereka merasa perbuatan mereka benar, makanya selalu dilakukan secara berulang-ulang. Solidaritas memang menjadi alasan utama, sesuai dengan hasil kajian kami selama menangani masalah ini, tegas Ketua Harian Satgas Pelajar Kota Bogor, TB Muhammad Ruchjani. Yang menarik, berangkat dari solidaritas itu mereka berkelompok dan memainkan peran sesuai dengan kapasitasnya.

Sosok paling berpengaruh dalam tawuran yakni provokator atau penggerak. Besaran pengaruhnya sebanyak 12,5 persen. Sementara peran berikutnya diisi oleh pentolan atau panglima lapangan sebanyak 27,5 persen. Peran provokator dan pentolan mampu meraup massa pelajar mencapai 52,5 persen. Yang menarik, layaknya sebuah peperangan sungguhan, ada peran tumbal di garda terdepan sebanyak 2,5 persen dan peran medis untuk memberikan pertolongan sebanyak 2,5 persen.

Sisanya, sebanyak 2,5 persen menjadi tenaga cadangan yang fleksibel mengisi ruang-ruang kosong dalam setiap peran. Mereka juga punya strategi, punya cara untuk menghimpun tenaga bantuan dari luar sekolah. Itu dilakukan untuk menambah daya gempur sebuah kelompok, terangnya.

Struktur dalam kelompok pelajar pelaku tawuran bukan hanya dilihat dari perannya. Tapi, secara tipologi, seperti dalam film-film gengster di luar negeri, pengelompokan terbagi menjadi tiga, ada pemimpin sebanyak 22,5 persen, ada pasukan, dan ada pengikut sebanyak 30 persen.

Tipologi pasukan cukup dominan dengan 47,5 persen, tindakan mereka berupa verbal dan fisik. Diikuti tipologi pengikut dengan 30 persen, tindakan mereka masih sebatas verbal dan fisik. Sementara tipologi pemimpin sebanyak 22,5 persen. Meski jumlahnya sedikit, namun tindakan mereka cukup kompleks, seperti penggunaan senjata tajam dan melempar batu. Dihubungi Radar Bogor, Pengamat Pendidikan, Arif Rahman Hakim mengatakan, perilaku kekerasan di kalangan putih abu-abu memang disebabkan sistem pendidikan yang masih menitikberatkan pada kemampuan intelektual.

Jadi tidak heran, kalau suatu daerah tingkat kelulusannya tinggi, tapi tingkat tawurannya pun tinggi, katanya. Menurut Arif, mentalitas para pelajar perlu mendapat sentuhan secara proporsional. Yang jelas ini merupakan tanggung-jawab bersama, termasuk masyarakat dan para orang tua yang telah menitipkan anaknya ke sekolah, ucapnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Sekolah Menengah, Dinas Pendidikan Kota Bogor, Ari Sasono Budiharjo mengatakan, seluruh stakeholders pendidikan kini sudah sepakat untuk mengatasi persoalan tawuran secara bersama-sama, tidak sendiri-sendiri. Yang bisa kami lakukan, di antaranya tingkatkan pengawasan dan penindakan, tandasnya.(cr2/yus/rur)

Artikel ini diakses melalui kata kunci:
radarbogor tawuran pelajar 2014