full screen background image

Politisi Kelas Dunia dan Politikus di Negara Berkembang

polls_jail_the_corrupt_politicians_2410_298591_poll_xlarge by . Sering kali kita mengamati, begitu banyak Politisi di Luar Negeri, dapat bersikap seperti Seorang Satria/Gentlement/Jantan. Saat Media massa mulai meliput ketidak wajaran dari seorang pejabat negara, maka secepat itu pula mereka dapat menyatakan mengundurkan dirinya. Mengundurkan diri bukan artinya mengakui kesalahannya apalagi merasa dikorbankan (karena ada yang lebih tidak benar/korupsi dibanding dirinya…ITU SIKAP KEKANAK-KANAKAN/Childish), itu hal yang beda, krn untuk membuktikan kesalahan seorang pejabat negara itu membutuhkan proses yang tidak sederhana apalagi menyangkut kebijakan yang dilakukannya.

Tapi pertanyaan yang sering terjadi bagi masyarakat di Indonesia adalah “Mengapa mereka tidak dapat bersikap seperti Satria”? dengan Mundur dari jabatannya, meskipun jabatanya sebagai Presiden dan Hal itu yang “TIDAK PERNAH TERJADI” di Indonesia. Dan juga kadang mereka mundur bukan karena kesalahan yang dilakukannya pribadi, biasanya karena keluarganya, istrinya atau anaknya yang memanfaatkan fasilitas negara yang dimiliki suaminya atau orang tuanya untuk kepentingan pribadi. Tapi kok bisa mereka mundur saat itu terjadi dan mulai disorot Pers/media massa?

  1. Para Politisi diluar, Paham betul jika media massa sudah menyoroti dirinya, akan dapat berakibat besar bagi partainya maupun keluarganya, domino efect and chaos theory (karena Pers dapat Menelanjanginya dan mempermalukan bukan cuma untuk dirinya tapi keluarganya dan juga partainya).
  2. Menghindari media massa menjadikan partainya sasaran tembak pemberitaan yang tidak baik atau tidak menguntungkan
  3. Dengan mundur maka media massa tidak ada berita mengenai kasus yang mulai diangkatnya, hingga semua masalah STOP sampai didirinya saja.
  4. Dan politisi tersebut tetap terhormat di lingkungan partainya
  5. Partainya dan para pejabat negara lainnya dapat segera bekerja kembali, jadi tidak menghabiskan energi yang sia-sia untuk menutup-nutup dan membuat pembelaan yang berkepanjangan dan akhirnya dapat melibatkan seluruh kekuatan partainya hanya untuk masalah itu saja.
  6. Dengan sikap politisi yang seperti itu juga diartikan “Jangan memberi Kesempatan Lawan Politik anda untuk memiliki alasan untuk Menyerang” Karena didunia politik anda bekerja Benar pun lawan Politik anda pasti USIL, apalagi tersorot Tidak Benar, jadi “Jangan memberi Peluang untuk orang lain Untuk Menyerang Anda”
  7. Selain dari itu jika orang yg sedang disorot itu bertahan, maka akan membongkar kebobrokan rekan-rekan separtai lainnya dan akan semakin jadi liar dan tidak terkendali, hingga menelanjangi partainya dan itu sangat tidak dikehendaki.
  8. Masalah kebenaran orang tersebut salah atau tidak, itu masalah Hukum yang harus dijalani dan pasti partainya akan berada dibelakangnya memberikan dukungan, apabila tidak terbukti, mediapun akan membersihkan nama baiknya. Tapi saat itu terjadi Fokus Media sudah selesai dan tidak berkembang.
  9. Hampir semua Politisi diLuar Negeri, berusaha semaksimal mungkin untuk tidak berinteraksi dengan media/pers, jadi bukan mereka yang samperin pers, tapi pers yang berusaha untuk mendekati mereka, beda dengan di Indonesia, pers tidak mau meliputnya malah ditelephone dan di sms mereka agar mewawancarainya.
  10. Politisi di Luar Negeri Paham Benar bahwa mereka bukanlah SELEBRITIS yang harus selalu tampil di TV, dan jika TV menayangkannya biasanya yang ditayangkan adalah pekerjaan mereka bukan individu mereka.

Jadi yang dimaksud dengan “Pencitraan” adalah hasil karya dari apa yang mereka lakukan baik, maka Citranya pun baik dimata masyarakat, hasilnya kerjanya Jelek, maka Citranyapun Jelek dimata masyarakat. Dengan begitu “Pencitraan” itu bukan dikemas atau diproduksi, karena para pejabat negara bukanlah artis atau selebritis. Pencitraan itu sesuai dengan prilaku dan kinerja yang diperbuatnya

Dan Sikap Gentlement atau Satria itu bukanlah suatu pengakuan bersalah atau lemah, tapi suatu sikap seorang satria krn ada kepentingan yag lebih besar untuk dilindungi daripada sekedar melindungi dirinya sendiri atau cari selamat sendiri.

Nah sikap-sikap politisi Kelas Dunia semacam itulah, karena biasanya politisi diNegara-negara Maju, sadar betul bahwa tugas yang dilakukan itu adalah suatu Pengabdian bagi Negaranya dan Rakyatnya, ini yang berbeda dengan Politikus-politikus di Negara Berkembang, mereka sadar benar dengan ikut berpolitik dan berpartai untuk mendapatkan “KEKAYAAN” dan menikmatinya bagai SELEBRITIS-SELEBRITIS Kelas DUNIA, jadi tidak Heran jika mereka seolah berada diatas RAKYATNYA, itu suatu kenyataan yang kelliru pemahaman Politik bagi kebanyakan politikus-politikus di Negara-negara BERKEMBANG.

Jadi politisi di Negara Maju sudah jauh lebih dewasa dalam pemahamannya berpartai dan berpolitik dibandingkan dengan politikus di negara berkembang yang cenderung kekanak-kanakan, bukan pada masing-masing pribadi individunya tapi secara berkelompok/partaipun demikian, meskipun secara ADART/SOP nya tidak demikian, banyak Negara Berkembang masih perlu belajar untuk dapat DEWASA, jika tidak, maka akan selamanya negara tersebut tidak akan pernah bergeser menjadi “Negara Maju”

Dan Tugas Media massa adalah sebagai monitor atau cermin atas semua kinerja yang mereka lakukan, jadi sebenarnya tugas Media adalah pendukung kinerja pemerintah yang sebenarnya juga sebagai bahan evaluasi juga koreksi, jika ternyata yang termonitor itu buruk dimata masyarakat via media. Media massa/pers adalah partner yang equal dari pemerintah.

Jangan pernah berharap Media akan memberi hiburan bagi para Politisi/Pejabat? itu Salah Besar dan Bodoh, kalau membutuhkan Hiburan pergi nonton atau panggil artis untuk nyanyi.

Bagi banyak orang sering mengartikan kegiatan berpolitik itu identik dengan kelicikan, sehingga sering mengatakannya jika tidak bisa jadi orang licik jangan jadi politisi, pendapat itu juga tidak sepenuhnya Salah. Untuk menjadi Licik perlu kecerdasan, tanpa kecerdasan ibarat “BUAYA yang HANYA GEDE BADANNYA TAPI OTAKNYA KECIL”, Buaya itu Mahluk paling Rakus tapi kaga punya Otak hingga bangkaipun dimakannya (itulah Politikus tanpa kecerdasan).

 

 

Artikel ini diakses melalui kata kunci:
keluarga politisi yang selalu disorot media massa